Uniknya STQ Nasional; Lantunan Ayat Suci Alquran Menggema Dalam Bola Dunia 

Selain mimbar dengan bentuk tanjak, bangunan mimbar berbentuk bola dunia diyakini bakal menjadi magnet dalam pagelaran STQ (Seleksi Tilawatil Quran) Nasional ke-25 di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sekarang mimbar bola dunia hasil karya Urai Fery Andi itu sudah siap digunakan.

Mirza Ahmad Muin, Pontianak

BANGUNAN mimbar berbentuk bola dunia yang berdiri tegap di bagian utara Tugu Khatulistiwa ini dibangun sejak satu setengah bulan lalu. Pembangunannya dikerjakan atas titah orang nomor satu Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Ide awalnya dilatarbelakangi oleh keunikan kota ini yang dilintasi garis lintang nol derajat bumi.

Posisi garis lintang nol derajat pembelah bumi utara dan selatan itu tepat berada di Tugu Khatulistiwa. “Adanya Tugu Khatulistiwa inilah yang menjadi ide awal dibuatnya mimbar berbentuk bola dunia. Idenya dari Pak Wali Kota,” kata Urai Fery, sang empu perancang bangunan bola dunia sekaligus mimbar STQ Nasional ke-25 di Pontianak, kemarin.

Kegiatan akbar tersebut akan dimulai pada 29 Juni 2019 nanti. Menurut Fery, saat ini bangunan mimbar sudah jadi. Hanya tinggal memasang alat kelengkapan sound system. “Kemungkinan besok (sound system) bisa dicoba,” ujarnya.

Fery menjelaskan, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono berharap dengan adanya mimbar berbentuk bola dunia, STQ kali ini memiliki ciri khas tersendiri sehingga dapat memberikan kesan mendalam bagi para kafilah.

Saat merancang mimbar berbentuk bola dunia ini, Fery mengaku banyak menemukan kendala. Pertama adalah masalah struktur. Itu karena mimbarnya berada di dalam bola dunia dan harus mampu menahan beban manusia. Di sisi lain, bola dunianya juga harus kedap suara dan terlindung, baik dari cuaca panas maupun hujan.

“Supaya tertutup tetapi tetap bisa dilihat dari luar, maka dindingnya pun dibuat transparan,” katanya. Untuk mengatasi masalah yang satu ini, ia sempat ingin menggunakan bahan kaca. Namun karena khawatir pecah dan harganya yang mahal, bahan kaca diganti dengan acrylic.

Agar tidak panas, dalam bola dunia juga dipasangi AC. Selain itu, ada pula penghambat sinar matahari berupa ornamen berbentuk benua dan pulau-pulau yang ditempel di bola dunia. Bahannya dari alumunium  “Mudah-mudahan saja panasnya bisa berkurang. Tapi kalau malam hari tak masalah. Malahan lebih dingin,” ungkapnya.

Setelah bola dunia ini rampung, konsep dasar yang menggambarkan seorang qari atau qariah melantunkan ayat suci Alquran tepat di titik nol derajat bakal terealisasi. Fery berharap keinginan wali kota agar STQ kali ini mampu menghadirkan kesan dan kenangan tak terlupa bagi para kafilah juga dapat menjadi nyata. (pontianak post)

 

Read Previous

Pembangunan Infrastruktur STQ Mencapai Rp11 Miliar

Read Next

Awal Kebangkitan Qori dan Qoriah Kalbar