Muhammad Hasbi; Tunanetra yang Hafiz Alquran

Kecintaan akan Alquran telah mengalahkan hambatan dalam diri Muhammad Hasbi untuk membaca dan menghafal Alquran. Berbagai prestasi, baik tingkat daerah maupun nasional telah diraih penyandang disabilitas ini.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

MEMILIKI suara merdu, apalagi ketika membaca Alquran adalah impian setiap orang. Tak menutup kemungkinan bagi penyandang tunanetra, seperti Muhammad Hasbi. Segala kekurangan yang dimiliki, tak menjadi halangan untuk tetap berprestasi dalam ajang perlombaan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) dan Musabaqah Tilawatil Quran MTQ. Mulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional sudah diikuti pria 32 tahun ini. “Saya dari tahun 1998 mulai ikut-ikut MTQ,” katanya.

Pria asal Kota Pontianak ini bercerita jika dia lahir di Makkah pada 1983. Mulai menghafal Alquran saat berusia 7 tahun, kemudian hafal dan khatam saat usianya 10 tahun. “Dari sana saya sudah hatam 30 juz, baru balik ke Pontianak tahun 1996,” ujarnya.

Setelah hampir dua tahun sekembalinya ke Pontianak, barulah pada 1998 Hasbi mulai mengikuti STQ cabang tahfiz. “Saya dapat informasi dari teman-teman di sini untuk ikut-ikut lomba. Alhamdulillah, walaupun di tingkat nasional saya jarang dapat juara, yang paling penting adalah silaturahminya,” ucapnya.

Untuk pendidikan formal, Hasbi mengaku hanya sampai kelas VI SD, tepatnya di Lembaga Pendidikan SLB Dharma Asih Pontianak. Karena di sekolah tersebut tidak ada braille, dia pun memilih berhenti dan fokus di ajang membaca dan menghafal Alquran. Kemudian pada tahun 2005, dia juga mendapat pendidikan di bidang komputerisasi hingga sekarang. “Alhamdulillah, sekarang saya bisa menggunakan komputer seperti teman-teman yang awas, (bisa) membaca dan mengetik,” terangnya.

Banyak prestasi sudah diraihnya, di antaranya STQ tahun 1998 tingkat provinsi, juara satu cabang tahfiz Alquran 30 juz. Tahun 1999 tingkat provinsi tahfiz cabang 20 juz. Tahun 2000 juara pertama cabang tahfiz Alquran 30 juz di Sintang. “Saya dikirim ke tingkat nasional tahun  1998 di Bali dan 1999 di Jakarta tapi tidak dapat juara,” jelasnya.

Kemudian tahun 2002 cabang tahfiz Alquran 20 juz, Hasbi menjadi juara pertama tingkat provinsi dan di kirim ke Mataram. Lalu tahun 2001 tingkat provinsi cabang tahfiz Alquran 10 juz berhasil meraih juara kedua. Pada 2003 setelah menjadi juara pertama STQ di Ketapang, masih di cabang yang sama Hasbi mewakili Kalbar tingkat nasional di Palangkaraya.

Masih di cabang yang sama tahun 2004 STQ di Sambas mendapat juara pertama, 2005 juara ketiga, dan 2007 juara kedua STQ di Ketapang. “Itu terkahir saya ikut STQ dalam cabang tahfiz,” katanya.

Setelah itu dia pun beralih ke cabang qari tunanetra. Mulai tahun 2008 dia berhasil menjadi juara pertama di cabang tersebut saat MTQ di Banten. Terkahir tahun 2012 juara dua STQ di Melawi dalam cabang yang sama.

Saat ini Hasbi juga terus aktif, di mana tiap sebulan sekali mengadakan pertemuan di Pondok Pesantren Assalam Pal Lima Pontianak, sesama penghafal Alquran. Dia pun kerap kali diundang dalam berbagai acara untuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran. “Lomba saya juga masih aktif, dua tahun sekali untuk cabang tunanetra. Selama masih diperlukan saya akan ikut terus, tidak mengharap apa-apa yang penting silaturahminya,” pungkasnya. (*)

Read Previous

MTQ DMI Pontianak; Peserta Tertua Berusia 71 Tahun

Read Next

Bahagia dengan Alquran